Rabu, 18 Januari 2017

Dogma Episkopal



Garis Besar Ajaran  dan Praktek dalam Sistem Pemerintahan Episkopal
Nama episkopal berasal dari kata Yunani episkopos yang berarti “overseer/ penilik” (kata ini juga diterjemahkan menjadi bishop dan uskup) dan menyatakan bahwa gereja diatur dan dipimpin oleh (para) bishop. Bentuk konkret dari sistem pemerintahan gereja ini agak berbeda pada beberapa gereja. Misalnya dalam gereja Methodist dan Lutheran, gereja dipimpin oleh seorang bishop yang menjadi pemimpin tunggal atas seluruh gereja-gereja lokal ada. Denominasi/ sinode/ gereja yang lain mempunyai bishop yang berbeda. Struktur yang lebih kompleks terdapat dalam gereja Anglikan dan gereja Katolik Roma. Seluruh gereja Roma Katolik dibawah pimpinan seorang Paus namun masih memiliki sistem keuskupan dalam wilayah-wilayah tertentu.
Dalam sistem pemerintahan gereja episkopal, otoritas dan kewenangan terletak pada bishop yang mengawasi sekelompok gereja, bukan hanya satu gereja lokal. Bishop adalah orang yang memiliki otoritas yang untuk menahbiskan ministers atau imam (priest). Katolik Roma mengatakan bahwa kewenangan bishop ini diperoleh melalui suksesi apostolik dari rasul-rasul pertama. Jadi kuasa itu dilanjutkan secara estafet oleh bishop berdasarkan Matius 16:18-19. Gereja Methodis dan Lutheran tidak mengakui otoritas melalui suksesi apostolik seperti Katolik. Sistem suksesi apostolik muncul pada abad kedua dan para penganutnya mengklaim dukungan alkitabiah dari posisi Yakobus di gereja Yerusalem dan sesuai dengan pernyataan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dan Titus mengenai posisi dan otoritas mereka dalam mengangkat penatua.
Inkarnasi (Allah menjadi daging atau manusia). Bagi Gereja Anglican doktrin inkarnasi menduduki tempat sentral. Inkarnasi pertama-tama berarti bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sebagaimana adanya. Inkarnasi adalah tindakan terluhur dalam penciptaan. Kedua, inkarnasi berarti bahwa dosa tidak dapat dijelaskan semata-mata dengan mengidentikkannya dengan materi atau alam jasmani. Alam materi diciptakan Allah adalah baik. Dosa lebih dari sekedar perilaku yang dinilai “duniawi”, dosa adalah pemberontakan terhadap Allah, merusak seluruh ciptaan Allah yang baik, dan hanya dapat dilakukan  Allah dengan tuntas kalau Ia menjadi daging di dalam Yesus Kristus. Ketiga, inkarnasi merangkumi totalitas kehidupan, yang menantang gereja atau orang beriman untuk terlibat dalam dan memperlihatkan keterbukaan terhadap keseluruhan pengalaman dalam kehidupan, dengan segala konflik dan ambiguitas (kemenduaanNya), sebagaimana Kristus sendiri menjalaninya.
Sakramen terdiri dari Baptisan dan Perjamuan Kudus. Wawasan Anglican tentang sakramen diturunkan dari wawasan inkarnasi. Kedua sakramen ini merupakan tanda yang kelihatan dan alat yang efektif yang melalui kasih karunia Allah bekerja di dalam manusia, dan dengannya iman manusia dikuatkan. Kendatipun sebagian memahaminya sebagai saluran kasih karunia untuk beroleh keselamatan, namun kaum Anglican/Episcopal tidak berpendapat bahwa anak-anak meniggal sebelum dibabtis akan kena hukuman. Disamping kedua sakramen ini, ada juga beberapa upacara yang mengandung nilai-nilai sakramental (berarti juga merupakan tanda yang kelihatan dan mengandung kasih karunia), yaitu konfirmasi (peneguhan sidi), pengakuan dosa, penahbisan, perkawinan, dan peminyakan orang sakit.
Khusus baptisan, juga diajarkan bahwa Baptisan adalah tanda pengakuan akan kristus dan penolakan atas kejahatan. Melaui baptisan, dengan cara dipercik atau diselamkan, di dalam nama Allah Tritunggal, orang dipersatukan ke dalam gereja yang adalah tubuh Kristus.
Dalam baptisan anak, janji tentang iman dan ketaatan diucapkan atas nama anak itu oleh sponsor atau orangtua (bapa dan ibu) seraninya. Sang sponsor berjanji bahwa bayi itu akan menerima pendidikan kristiani yang sepatutnya dan akan didorong untuk menjalani hidup kristiani, dan pada gilirannya akan disidikan. Ada juga yang memahami bahwa seluruh jemaat adalah sponsor, sehingga tidak perlu ada orangtua serani.
Tentang perjamuan kudus diajarkan bahwa sakramen ini bukan sekedar pengenangan (memorial). Peserta perjamuan yang dilayakkan akan menerima roti dan anggur sebagai peringatan akan Kristus serta diberi makan-minum dan dikuatkan oleh tubuh dan darah rohani Kristus. Kendati substansi (zat)  roti dan anggur tidak berubah, kehadiran rohani yang nyata dari Kristus yang hidup terjadi pada setiap Perjamuan Kudus.
Pengakuan dosa (penance) dan pengampunan (Absolution): kendati tidak merupakan sakramen, toh upacara atau kegiatan ini tetap dianggap penting dan dipertahankan. Pengakuan dengan sepatutnya disampaikan secara khusus ataupun di dalam kebaktian umum. Si pengaku menerima pengampunan dari Allah melaui pernyataan imam. Dengan demikian warga gereja mendapat kepastian dari sang pelayan bahwa dosa mereka diampuni dan dipulihkan oleh Allah keanggotaannya di dalam tubuh Kristus. Di dalam upacara pengakuan yang bersifat khusus, si pengaku berlutut di hadapan imam di tempat yang sudah ditetapkan, lalu berdoa, mengaku, menerima nasihat, lalu sang imam menyatakan bahwa berdasarkan wewenang Kristus yang dipercayakan kepadanya, “Aku mengampunimu dari dosa-dosamu”.
Penahbisan rohaniawan juga tidak lagi merupakan sakramen, namun tetap dipandang sebagai aturan yang suci, yang disampaikan melalui penumpangan tangan oleh uskup. Ada tiga golongan pelayan (pejabat) di dalam gereja ini: uskup, imam, diaken. Tetapi hanya uskup yang memiliki kuasa menahbiskan, dan wewenang itu diturunkan atas mereka melaui garis yang tak terputus dari para rasul. Hanya pejabat yang mendapat tahbisan yang sepatutnyalah yang boleh berkothbah di depam umat dan melayankan sakramen (kecuali baptisan, di mana warga jemaat pun bisa melayankannya). Khusus tentang penahbisan imam wanita, baru pada tahun-tahun terakhir ini Gereja Anglican mengizinkan atau menyelenggarakannya, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di wilayah masing-masing (jadi tidak diberlakukakan secara menyeluruh).
Perkawinan juga tidak merupakan sakramen, namun mengandung nilai-nilai sakramental. Melalui perkawinan pria dan wanita dipersatukan untuk hidup dalam kesetiaan, untuk tetap berada bersama dalam cinta-kasih dan damai yang sempurna, dan untuk hidup sesuai dengan perintah Allah. Gereja merayakan perkawinan dan dengan menyampaikan berkat atasnya. Perceraian tidak diperbolehkan, tetapi pembatalan perkawinan dapat diberikan bila keadaan membenarkan, dan mereka yang ‘berpisah’ ini dapat kawin lagi.
Peminyakan (pengurapan) orang sakit juga bukan sakramen, namun masih dipandang sebagai kegiatan yang mengandung nilai-nilai sakramental. Yang berwewenang melayankannya adalah uskup dan imam. Si sakit diolesi dengan minyak yang sudah diberkati untuk tujuan itu, lalu uskup atau imam memohon Allah berkenan menyingkirkan rasa sakit dan penyakit dari tubuh orang itu. berpasangan dengan doa memohon pemulihan kesehatan, dipanjatkan juga doa memohon orang itu dibebaskan dari dosa.
            Kebanyakan sejarah kekristenan, kepemimpinan Episkopal merupakan satu-satunya bentuk yang dikenal. Sementara itu, kebanyakan gereja-gereja protestan diorganisasikan menurut sistim Kongregasional atau presbiterian, yang sama-sama berasal dari tulisan-tilisan Yohanes Calvin, seorang reformator protestan yang bekerja dan menulis secara independen setelah keluarganya Mathin Luther dari gereja katolik. Namun demikian, sebagian besar orang kristen adalah anggota-anggota dari gereja-gereja historis yang dipimpin secara episkopal.
            Ada beberapa perbedaan yang harus dalam prinsip-prinsip kepemimpinan diantara gereja-gereja episkopal pada masa kini. Sampai batas tertentu, pemisahan gereja-gereja episkopal dapat ditelusuri kepada perbedaan-perbedaan dalam ekslesiologi: artinya pemahaman teologis mereka mengenai gereja dan kepemimpinan gereja
            Yang termasuk dalam gereja-gereja episkopal adalah:
·         Gereja Katolik Roma, yang dipimpin oleh paus, uskup roma, sebagai pemimpinannya yang tertinggi.
·         Gereja Katolik Ritus Timur
·         Gereja Ortodoks Timur
·         Gereja Ortodoks Oriontal
·         Gereja Asiria Di Timur
·         Gereja Anglikan (termasuk pula gereja episkopal)
·         Gereja Methodist
·         Gereja Lutheran (HKBP, HKI, GKPS,GKPI, GKLI, Dll)

Tugas Makalah sewaktu Kuliah di STAKPN Tarutung

Puisi dari Kekasih



Waktu
Setiap  kesempatan adalah waktu
Ia berlalu dengan pasti,
Tidak ada kata untuk terburu buru
Tidak ada kata untuk  terlambat
Tidak ada kata untuk  terlalu lama
Tidak ada kata untuk  terlalu cepat
Tapi, ia punya satuan yang  tepat
Walau kadang waktu terasa kejam
Tidak mau mengulang kenangan indah..
Namun, bertahan disatu masa yang sulit
Saat membuka mata adalah waktu
Saat merenung adalah waktu
Saat  terpuruk adalah waktu
Saat berhentipun adalah waktu
Dan saat memulai  juga adalah waktu

Waktu kemarin berbeda dengan hari ini
Dan tidak sama dengan besok......
Setiap waktu punya cerita, tidak ada yang sama
Karena semalam adalah kenangan,
 Hari ini adalah kenyataan
Dan besok adalah
 harapan

Created by        : Mian Limbong









Kenangan di atap biru
Aku tak mampu  merangkai kan kata
Menciptakan puisi bagaikan seorang pujangga
Menggoreskan tinta
Menjadi tulisan yang menggugah  hati
Merasuk  hingga ke jiwa
                Tapi………. sore itu
                Tanganku mulai menari , menggoreskan tinta
                Diatas  sebuah kertas, kuungkapkan  isi  hati
                Satu – demi satu, semua kenangan terbersik  dibenakku
                Tiba – tiba otakku berhenti berpikir
                Satu kenangan  menguasai  otakku
Kenangan itu menarikku, membawaku jauh
Seakan kenangan itu terjadi lagi
Menghabiskan waktu bersama  teman
Menciptakan sebuah cerita kehidupan
Tawa bersama,,, duka bersama
                Dibawah satu atap biru
                Tercipta sebuah cerita
                Tapi… akankah kenangan itu berakhir ?
                Saat  kaki  melangkah, mencoba menjejakkan kaki keluar?
                Atap biru……
                Kau adalah kenangan                                                                 Created by : Mian  Limbong
Menjadi  seberkas cahaya
Aku ada saat ini                                                                                            
Menjadi seorang gadis kecil
Berdiri, berjalan,tertawa, bermimpi
Kulakukan hanya karna mereka
                                Aku ada , aku bahagia
                                Mengenal dunia dan  P enciptanya
                                Aku ada, aku bahagia
                                Dianugrahkan ditengah- tengah mereka
                                Kini aku masih kecil,
                                Aku tidak   ingin menjadi virus
                                Yang perlahan merusak  jaringan disekitarku
Tapi, aku ingin menjadi sebatang lilin
Yang mencoba bersinar dikala kegelapan  menghampiri
Aku tau, lilin tidak  dibutuhkan  disaat  ada  cahaya
Tidak  dipikirkan saat mentari  selalu mengalahkaan kegelapan

Namun  aku...
 aku ingin seperti lilin itu
Aku ingin bercahaya disaat waktu yang dibutuhkan
Meski cahayaku kecil, namun seberkas cahaya itu
Memberi kesan untuk  mereka yang mencarinya
Tuhan, aku ingin menjadi seberkas cahaya
Dari sebatang lilin kecil.....
                                                                                                                Given to :  my  lovely  familiy



SAHABAT
Hening malam kian semakin nyata
Tak ada satupun yang mengisi keheningan itu
Tinggal sesosok  tubuh kecil
Mencoba tegar, berpacu dengan heningnya malam
                Kumenutup mata, perlahan membuka memoriku
                Kau mulai mengisi lorong – lorong imajinasiku
                Meski tak dapat menyatakan dirimu pada duniaku
                Namun, setiap katamu
                Mengalirkan semangat  baru bagiku
Karenamu, aku percaya diri
Karenamu, kuberani hadapi hari
Karenamu kubelajar menatap lebih pasti
Karenamu kudapat motivasi diri
                Kau tercantum
Sebagai  satu jawaban
Bukti Tuhan mengasihiku
Sahabat hidupku
Itulah sebutan manis untukmu.....
Created by        :  Mian and given to my best   friend, T. F. S
                                                                                About   You
Nothing  gonna change  my feeling
I look like fall, i  never realize it
I can”t  pass it, i can’t ignore it
When you came,
 A little by a little i can ‘ t pass you
Some people know you, so do i
Try to enter your life, know you
Spoiled, that i know you
Nothing that i can say anymore
Your goodness,,,,,,
How i can do for you
If you know me,
The deepest thing aboout me
I can’t hear your voice to say it
Just, write it in the star
And let me to see it
Nothing wrong with you
The  right smile, i can give....                                                                     my world   for you



Beriman dan Berhikmat Kristen



Beriman dan Berhikmat!
Hikmat adalah kecakapan hidup, demikian dalam Perjanjian Lama. Pada masa kini kata hikmat mungkin lebih tepat diterjemahkan dengan kecerdasan. Semula kecerdasan yang paling dikejar adalah kecerdasan intelektual. Pada masa kini telah dikembangkan bahwa selain cerdas secara intelektual, dibutuhkan pula jenis kecerdasan yang lain yaitu: kecerdasan emosional (oleh agamawan ditambah dan dirangkum dengan kecerdasan spiritual!).
Cerdas secara intelektual berarti memaksimalkan logika. Manusia memiliki kemampuan berpikir yang amat mengagumkan. Kemampuan berpikir rata-rata manusia lebih daripada yang dapat dibayangkan oleh siapapun. Orang dengan tingkat kecerdasan intelektual yang pas-pasan ternyata mampu mengingat sebuah ensiklopedi (bayangkan!). Tapi itu bisa tidak maksimal jika ia juga tidak cerdas secara emosional. Kapasitas intelektual mesti ditopang oleh keberadaan emosional yang stabil. Tidak hanya stabil, tapi menimbulkan enerji yang luar biasa. Kecerdasan emosional dapat dilihat dari semangat yang kuat tapi tidak rapuh jika berhadapan dengan tantangan. Sepertinya untuk masa kita ini, kita bisa menemukan orang-orang yang tangguh secara iman. Mereka adalah orang-orang yang tidak tergoda oleh harta duniawi. Tidak bergeming mesti diolok-olok. Tidak gonta-ganti agama dan gereja meski dianiaya. Tetap rajin sembahyang mesti rejekinya tetap pas-pasan. Tidak jatuh kepada dosa amoral (jatuh kepada perbuatan asusila) dan dosa kriminal (jatuh kepada tindak kejahatan). Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan militant. (Bahkan rohaniwan belum tentu seperti itu!)
Namun tampaknya mereka juga butuh hikmat baru. Yaitu hikmat yang membuat mereka tidak kehilangan rasa humor. Hikmat yang membuat mereka dengan lincah menempatkan diri kepada segala situasi tanpa harus kehilangan jatidiri. Ini dia yang sulit. Bagaimana kita dapat hidup dimanapun tanpa harus larut, tapi tetap menunjukkan nilai yang berbeda.
Mungkin itu beda-beda tipis dengan permisif kepada segala nilai. Bunglon. Kepada kejahatan. Kepada penindasan, ya: asal bukan saya! Kepada pelaku kejahatan kita bilang tidak apa-apa! Kepada orang yang hidup di dalam kemunafikan kita bungkam. Mungkin ada sejumlah alasan. Mulai dari takut orangnya tersinggung. Takut nanti kita tidak ditemani. Takut nanti kita dinilai tidak setia kawan…Begitukah?
Tampaknya untuk area di sini kita betul-betul diajak mikir. Harus ada beda antara, di satu sisi: mampu menempatkan diri secara luwes dan lincah dalam menerapkan norma-norma hidup beriman dengan di sisi yang lain: tidak punya sikap terhadap nilai-nilai yang ada seolah-oleh segala sesuatu adalah boleh! Itulah hikmat: kita tahu apa yang patut yang tidak. Kita tahu apa yang harus dilakukan pada saat yang tepat! Berarti hikmat yang benar butuh penerangan Allah, tapi juga dibarengi oleh tekad untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah pada segala keadaan. Di manapun dan kapanpun, taat dan hormat pada Allah serta kasih terhadap sesama!
Makna hikmat dalam Alkitab menandaskan pertimbangan yang masuk akal, berdasarkan pengetahuan dan pengertian; kesanggupan menggunakan pengetahuan dan pengertian dengan sukses untuk memecahkan masalah, menghindari bahaya, mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau menasihati orang lain dalam hal-hal itu. Hikmat berlawanan dan sering dikontraskan dengan kebebalan, kebodohan, dan kegilaan.—Ul 32:6; Ams 11:29; Pkh 6:8.
Kata dasar yang mengandung arti hikmat dalam bahasa Ibrani adalah khokh·mah′ (kata kerja, kha·kham′), dan dalam bahasa Yunani adalah so·fi′a, disertai bentuk-bentuk lainnya yang terkait. Dan juga, ada kata Ibrani tu·syi·yah′, yang bisa diterjemahkan ”pekerjaan yang membawa hasil baik” atau ”hikmat yang praktis”, dan kata Yunani fro′ni·mos dan fro′ne·sis (dari fren, ”pikiran”), yang berkaitan dengan ”akal sehat”, ”kebijaksanaan”, atau ”hikmat yang praktis”.
Hikmat menyiratkan luasnya pengetahuan dan dalamnya pengertian, kedua-duanya menghasilkan pertimbangan yang masuk akal dan jelas, yang menjadi ciri hikmat. Orang berhikmat ”menyimpan pengetahuan bagaikan harta”, memiliki tabungan pengetahuan untuk digunakan jika dibutuhkan. (Ams 10:14) Meskipun ”hikmat adalah hal pokok”, nasihat yang diberikan ialah ”dengan semua yang engkau dapatkan, dapatkanlah pengertian”. (Ams 4:5-7) Pengertian (istilah yang luas maknanya, yang sering kali mencakup daya pengamatan) menambah kekuatan kepada hikmat, banyak menambah kebijaksanaan dan kesanggupan untuk melihat ke depan, yang juga merupakan ciri-ciri penting hikmat. Kebijaksanaan menyiratkan kearifan dan bisa dinyatakan dalam tindakan yang hati-hati, pengendalian diri, kesahajaan, atau pengekangan. ”Pria yang bijaksana [bentukan dari fro′ni·mos]” membangun rumahnya di atas batu, karena telah mengantisipasi badai; pria yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir dan menderita malapetaka.—Mat 7:24-27.
Pengertian membentengi hikmat dengan cara-cara lain. Misalnya, seseorang bisa jadi menaati perintah tertentu dari Allah karena ia sadar bahwa ketaatan demikian adalah hal yang benar, dan dalam hal ini ia memperlihatkan hikmat. Namun, jika ia benar-benar mengerti alasan yang mendasari perintah itu, maksud baik di baliknya, dan manfaat yang dihasilkannya, tekad hatinya untuk terus berjalan pada haluan hikmat tersebut akan sangat dikuatkan. (Ams 14:33) Amsal 21:11 mengatakan bahwa ”dengan memberikan pemahaman kepada orang berhikmat, seseorang memperoleh pengetahuan”. Orang yang berhikmat senang memperoleh informasi apa pun yang akan memperjelas pandangannya tentang akar suatu situasi, kondisi, dan penyebab masalah tertentu. Dengan demikian, ia ”memperoleh pengetahuan” tentang apa yang harus dilakukan dan mengetahui kesimpulan apa yang harus diambil, apa yang diperlukan untuk mengatasi problem yang sedang dihadapi.—Bdk. Ams 9:9; Pkh 7:25; 8:1; Yeh 28:3; lihat PEMAHAMAN.
Apa yang butuh kita lakukan untuk berhikmat

Pertama, meminta hikmat dari Tuhan sendiri. Kita hanya bisa mendapat hikmat dari Tuhan kalau kita harus bersandar kepada Tuhan, dan kalau hidup tulus dihadapan Tuhan.
Kedua, menjaga hikmat kita. Kalau hikmat itu tidak dijaga maka ia akan hilang. Hikmat adalah bagian dari cara hidup kita. Ketika cara hidup kita serong, maka pudarlah hikmat yang ada pada kita.

Himat Allah diperlukan untuk:
  1. menyelesaikan persoalan/tantangan dengan baik
  • hadapi dengan iman
  • jaga hati supaya tidak tawar melihat keadaan yang ada.
     
  • fokus kepada Tuhan Yesus,bukan kepada persoalan.[Ratapan 3:21-23,Mazm 26, Mazm 113]
     
  • tetap bersuka cita karena janji Tuhan [Yosua 21:45a]
  • tetap menjaga kekudusan [Mazm 34:22]
2. meraih keberhasilan , pengkotbah 10:10
3. menyenangkan hati Tuhan
4. dapat memenangkan banyak jiwa.